Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ternyata Ekspor Indonesia Anjlok, Defisit Perdagangan dengan China Capai 2,23 Miliar Dollar AS

Ternyata Ekspor Indonesia Anjlok, Defisit Perdagangan dengan China Capai 2,23 Miliar Dollar AS

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, ekspor Indonesia sepanjang Januari 2022 hingga 19,16 miliar dollar AS, atau Rp 273,9 triliun (kurs Rp 14.300 per dollar AS).

Secara bulanan (month to month/mtm), ekspor menurun 14,29 persen dari 22,36 miliar dollar AS pada Desember 2021. Ekspor komoditas migas turun 17,99 persen dari 1,09 miliar dollar AS menjadi 0,9 miliar dollar AS di Januari 2022.

Sementara itu, ekspor nonmigas turun 14,12 persen dari 21,27 miliar dollar AS menjadi 18,26 miliar dollar AS.

Ekspor Indonesia Anjlok, Defisit Perdagangan dengan China Capai 2,23 Miliar Dollar AS


4+

KOMPAS.com: Berita Terpercaya

Baca Berita Terbaru Tanpa Terganggu Banyak Iklan

Dapatkan Aplikasi

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto mengungkapkan penurunan ekspor terbesar terjadi dengan China.

"Penurunan ekspor terbesar terjadi ke China turun 1,58 miliar dollar AS. Penurunan terbesar dengan China terjadi pada komoditas bahan bakar mineral serta lemak dan minyak hewan nabati dengan kode HS 15," kata Setianto dalam konferensi pers, Selasa (15/2/2022).

Selain dengan Negeri Tirai Bambu, penurunan ekspor terbesar terjadi dengan Jepang, Vietnam, Filipina, dan India.

Dengan Jepang, ekspor RI merosot 182,2 juta dollar AS, dengan Vietnam merosot 170,6 juta dollar AS, Filipina menurun 162,7 juta dollar AS, dan India menyusut 151,1 juta dollar AS.

Namun bila dilihat berdasarkan pangsa pasar, maka China masih mendominasi pangsa pasar Indonesia dengan porsi hingga 19,25 persen. Diikuti AS sebesar 14,04 persen dengan nilai 2,56 miliar dollar AS, dan Jepang dengan porsi 8,29 persen atau 1,51 miliar dollar AS.

"Pangsa ke negara-negara ASEAN sebesar 3,34 miliar dollar AS atau 18,28 persen, sedangkan ke Uni Eropa 1,70 miliar dollar AS atau sebesar 9,30 persen," ucap Setianto.

Penurunan ekspor dengan China membuat Indonesia masih mengalami defisit dengan Negeri Tirai Bambu itu. Defisit neraca perdagangan dengan China hingga 2,23 miliar dollar AS.

Komoditas dominan penyumbang defisit, yakni mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS 84), serta mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85).

Selain itu, Indonesia juga mengalami defisit dengan Thailand dan Australia. Dengan Thailand, neraca perdagangan defisit sekitar 430,2 juta dollar AS, karena nilai ekpor yang sebesar 504,3 juta dollar AS lebih rendah dibanding nilai impor yang sebesar 934,5 juta dollar AS.

"Kemudian, defisit dengan Australia hingga 233,6 juta dollar AS, di mana ekspor 262,5 juta dollar AS, sementara impor 496,1 juta dollar AS. Komoditasnya adalah serelia (HS 10) dan bahan bakar mineral (HS 27)," tandas Setianto.

Jika dilihat menurut sektor, penyumbang terbesar penurunan pada Januari 2022 adalah komoditas pertambangan yang menurun 42,88 persen. Hal ini dipengaruhi oleh permintaan batu bara turun 61,14 persen dan lignit turun 69,28 persen.

Nilai ekspor batu bara sepanjang Januari 2022 adalah 1,07 miliar dollar AS. Secara volume, ekspornya turun 9,12 persen. Secara tahunan pun, nilainya turun 22,59 persen dengan volume anjlok 61,30 persen.

"Penurunan ekspor batu bara tidak semata-mata karena larangan ekspor. Ada indikator lain sesuai harga internasional dan sebagainya. Kita tidak melakukan atau menganalisis apakah ini terkait larangan ekspor pada awal Januari 2022 lalu," beber Setianto.

Lebih lanjut Setianto mengungkap, ekspor yang turun di bulan Januari 2022 terjadi karena pola musiman. Secara tahunan (year on year/yoy), nilai ekspor masih naik 25,31 persen (yoy).

Ada peningkatan 1,96 persen pada ekspor migas, dari 0,88 miliar dollar AS menjadi 0,90 miliar dollar AS. Sementara komoditas non migas meningkat 26,74 persen dari 14,41 miliar dollar AS di Januari 2021 menjadi 18,26 miliar dollar AS di Januari 2022.

"Secara tahunan seluruh sektor masing mengalami peningkatan. Dan industri pengolahan meningkat tertinggi sebesar 31,16 persen, didorong oleh peningkatan besi dan baja yang naik 126,56 persen, serta pakaian jadi atau konveksi 47,05 persen," tandas Setianto.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Aktifkan Notifikasimu

Aktifkan

Auto Post Artikel di Blogspot

Inilah cara menulis artikel secara otomatis di blogger!


(KOM)(MLS)

Post a Comment for "Ternyata Ekspor Indonesia Anjlok, Defisit Perdagangan dengan China Capai 2,23 Miliar Dollar AS"