Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sedang Viral, Ingin Mulai Bisnis Impor? Berikut 5 Langkah yang Mesti Dipersiapkan Pelaku Usaha

Sedang Viral, Ingin Mulai Bisnis Impor? Berikut 5 Langkah yang Mesti Dipersiapkan Pelaku Usaha

Bisnis impor dapat menjadi peluang usaha yang layak untuk diseriusi. Pasalnya, tidak semua barang mampu diproduksi di dalam negeri.

Tak hanya itu, bisnis impor juga merupakan salah satu strategi untuk mengembangkan bisnis yang dijalankan pelaku usaha. Terlebih, saat ini situasi pandemi Covid-19 mulai membaik sehingga perekonomian dunia, khususnya Indonesia, kembali menggeliat.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai impor Indonesia hingga 16,68 miliar dollar Amerika Serikat (AS) pada Agustus 2021. Angka ini meningkat 10,35 persen secara month to month (mtm) bila dibandingkan Juli 2021 yang hingga 15,11 miliar dollar AS.

Ingin Mulai Bisnis Impor? Berikut 5 Langkah yang Mesti Dipersiapkan Pelaku Usaha


4+

KOMPAS.com: Berita Terpercaya

Baca Berita Terbaru Tanpa Terganggu Banyak Iklan

Dapatkan Aplikasi

Begitu pula jika dibandingkan Agustus 2020. Kala itu, nilai impor Indonesia hanya hingga 10,74 miliar dollar AS. Artinya, laju impor pada Agustus 2021 tercatat naik 55,26 persen secara year on year (yoy).

Kondisi impor Indonesia yang positif dapat menjadi momentum tepat untuk memulai bisnis impor sekaligus ikut berperan dalam pemulihan ekonomi Indonesia.

Sebelum memulai bisnis impor, ada sejumlah hal yang harus dipersiapkan pelaku usaha. Berikut ulasannya.

1. Riset

Riset merupakan hal fundamental sebelum memulai apa pun, termasuk bisnis impor. Setidaknya ada dua hal yang harus diperhatikan dalam bisnis impor, yaitu produk dan pasar.

Menurut catatan BPS, terdapat 10 jenis barang yang masih diimpor Indonesia. Kesepuluh produk tersebut adalah mesin dan peralatan mekanis, mesin dan perlengkapan elektrik, plastik dan barang dari plastik, kendaraan dan bagiannya, serta ampas atau sisa industri.

Selain itu, perangkat optik, fotografi, dan medis; gula dan kembang gula; biji dan buah yang mengandung minyak; produk farmasi; serta kapal, perahu, dan struktur terapung.

Setelah menentukan produk, langkah selanjutnya adalah memahami target pasar, termasuk kebutuhan calon pelanggan dan wilayah cakupannya. Kemudian, pelajari pula negara pengimpor dan regulasi impornya.

2. Cari penyuplai dari negara lain

Demi memperoleh produk berkualitas dengan harga terbaik, pengimpor harus jeli menemukan calon penyuplai dari negara impor.

Untuk membandingkan calon penyuplai, pengimpor dapat memanfaatkan situs jual beli online global, sesuai amazon.com, ebay.com, dan alibaba.com.

Lihat Foto

Dok. Shutterstock

Ilustrasi e-commerce yang dapat diakses melalui website dan aplikasi.

Lewat cara itu, pengimpor dapat mengetahui harga, keunggulan produk yang ditawarkan masing-masing calon penyuplai, termasuk ketersediaan barang dan minimum pemesanannya.

3. Pahami prosedur pengiriman

Barang impor yang akan dikirim ke Indonesia harus memenuhi prosedur perdagangan internasional, terutama pengiriman dari negara asal. Prosedur ini ditetapkan dalam peraturan Kementerian Perdagangan (Kemendag).

Oleh sebab itu, pengimpor harus memahami dan menaati prosedur penentuan biaya pengiriman dan bea cukai, jeli memilih jasa freight forwarder dengan biaya yang lebih murah, serta mengasuransikan barang impor.

4. Buat Angka Pengenal Importir

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 59/PMK.04/2014, setiap pengimpor harus memiliki tanda pengenal berupa Angka Pengenal Importir (API).

Untuk memperolehnya, pengimpor harus mendaftarkan diri serta bisnisnya ke kantor Kepabeanan dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Tak hanya itu, importir juga memerlukan API-U (Umum) untuk menerima izin menjual barang yang diimpor.

Dokumen yang harus disiapkan untuk mengurus API dan API-U adalah fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau paspor, pas foto pengurus bisnis, Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), surat keterangan domisili, serta surat izin usaha perdagangan (SIUP).

Kemudian, surat keterangan (SK) pendirian usaha yang dikeluarkan Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), Akta Notaris Pendirian Perusahaan, Tanda Daftar Perusahaan (TDP), dan referensi dari bank devisa.

5. Gunakan layanan outward remittance terbaik

Menggeluti bisnis impor berarti pelaku usaha akan kerap berhubungan dengan transaksi remitansi (remittance) atau kegiatan mentransfer valuta asing (valas) ke luar negeri atau sebaliknya.

Untuk mendukung proses itu, pelaku usaha dapat memanfaatkan layanan outward remittance terbaik yang memungkinkan pengguna bertransaksi pada hari yang sama dengan nilai valas kompetitif. Salah satunya adalah KilkBCA Bisnis dari PT Bank Central Asia atau Bank BCA.

Jaringan korespondensi Bank BCA yang luas memudahkan kebutuhan pengiriman valas kepada para penyuplai di mana saja di seluruh dunia dengan cepat, aman, dan mudah.

Lihat Foto

DOK. SHUTTERSTOCK/ARSYAD.IMAGE

Transfer valas menggunakan KlikBCA Bisnis

Dengan KlikBCA Bisnis, pelaku usaha dapat melakukan transfer 14 jenis mata uang yang meliputi dollar Australia (AUD), dollar Kanada (CAD), franc Swiss (CHF), yuan China (CNY), krona Denmark (DKK), euro (EUR), pound sterling Inggris (GBP), dollar Hong Kong (HKD), yen Jepang (JPY), dollar Selandia Baru (NZD), riyal Saudi Arabia (SAR), krona Swedia (SEK), dollar Singapura (SGD), dan dollar Amerika Serikat (USD).

Pengguna juga dapat memanfaatkan pilihan transfer secara Full Amount. Dengan fitur ini, valas yang dikirim akan diterima secara utuh. Hal ini membuat transaksi bisnis #MakinLancar.

Tak hanya itu, dengan fitur Value Today, kiriman valas pengguna juga dapat diterima oleh bank penerima pada hari pengiriman.

Ketika bisnis impor mulai meningkat, KlikBCA Bisnis juga turut mendukung pengimpor dan mampu melayani transaksi outward remittance dengan sumber dana valas di atas 100.000 dollar AS.

Bagi pengguna yang sudah memiliki KlikBCA Bisnis, fitur kiriman valas dapat diaktifkan dengan mengisi formulir KlikBCA Bisnis untuk segera diproses oleh kantor cabang Bank BCA.

Selain outward remittance, KlikBCA Bisnis juga menghadirkan layanan informasi rekening, transfer dana, registrasi kartu (fleet), aktivasi business card, business-to-business (B2B) e-commerce, pembayaran tagihan, dan e-billing pajak.

Seluruh layanan tersebut dapat diakses melalui laptop atau komputer dari rumah atau akrab disebut #BankingFromHome.

Pengguna tak perlu repot pergi ke kantor cabang untuk mengurus keperluan bisnis impor yang dijalankan. Hal ini juga menjadi salah satu upaya untuk menekan penyebaran Covid-19.

Dengan dukungan sarana transaksi yang lengkap dan simpel itu, pelaku usaha akan semakin mudah menggeluti bisnis impor sekaligus membantu pemulihan ekonomi Indonesia di tengah pandemi Covid-19.

Untuk informasi lebih lengkap, kunjungi laman KlikBCA Bisnis atau hubungi Halo BCA (021) 15008888.

Aktifkan Notifikasimu

Aktifkan

Auto Post Artikel di Blogspot

Cara Menulis Artikel Otomatis di Blogger


(KOM)(MLS)

Post a Comment for "Sedang Viral, Ingin Mulai Bisnis Impor? Berikut 5 Langkah yang Mesti Dipersiapkan Pelaku Usaha"